Kalimat-kalimat kita menjadi boneka lilin, jika kita mati demi mempertahankannya, maka saat itulah ruh merambahnya hingga kalimat-kalimat kita hidup terus (Sayyid Qutb) ☀ “Sungguh, aku lebih memilih ditemani tinta sepanjang hari daripada seorang kawan. Aku lebih suka seikat kertas daripada sekarung tepung. Tamparan ulama di pipiku lebih terasa nikmat daripada minuman lezat.” (Muhammad bin Marwan Ad-Dimasyqi) ☀ "Ajarkan sastra kepada anak-anak kalian, karena sastra bisa menjadikan yang pengecut menjadi pemberani," Umar bin Khattab. ☀
Humaniora     Dibaca :16728 kali , 23 komentar

Bagaimana Memberantas Korupsi? Inilah Caranya

Ditulis : Yons Achmad, 17 Februari 2012 | 10:25

Akhir tahun lalu, dr Chairil Anwar Sholeh, Sp. An, seorang dokter yang konsen pada masalah keumatan meluncurkan buku memoar yang berjudul “Bolehkah Ayah Berharap”. Buku tersebut diterbitkan secara terbatas oleh Kanetmedia Pustaka Jakarta. Sebuah buku yang memuat pandangan-pandangan kritis dan mencerahkan terhadap fenomena kekinian yang ditujukan secara khusus untuk anak-anaknya dan secara umum diperuntukkan bagi mereka yang punya konsen dalam pembangunan umat menjadi lebih baik lagi.

 

Dalam buku tersebut, ada pembahasan khusus mengenai korupsi dan cara pemberantasannya. Karena masih cukup relevan menjadi perbincangan di tanah air, dimana korupsi masih begitu merajalela, berikut ringkasan pandangannya mengenai bagaimana cara memberantas korupsi yang dicuplik dari buku tersebut:

 

Maraknya korupsi yang terjadi di Indonesia bukan lagi disebut membudaya, tapi sudah menjadi suatu seni berkorupsi. Seorang koruptor tidak hanya sekedar meraup uang negara karena hal tersebut sudah sangat mudah dilakukan. Kini, tinggal bagaimana mengemas hasil korupsi tersebut agar lebih terlihat indah sehingga KPK pun susah membedakan antara haram dan halal. Bahkan seorang profesor ekonomi terkenal menyebutkan bahwa korupsi sudah menjadi bagian dari life style.

 

 

Memang hampir tidak ada negara di dunia ini yang lepas dari pengaruh korupsi. Tapi, prestasi Indonesia dalam hal korupsi sungguh “membanggakan”. Khusus di kawasan Asia pasifik saja, Indonesia berhasil menyabet medali emas sebagai negara paling korup. Data ini dikeluarkan oleh perusahaan konsultan “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hong Kong, setelah melakukan survey terhadap 2174 eksekutif kelas menengah dan atas di Asia, Australia, dan Amerika Serikat yang menjalankan usaha di 16 negara terpilih. Sementara untuk di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia “melorot” di posisi ke-5 negara terkorup.

 

 

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, label sebagai negara terkorup ikut memengaruhi imej Islam di mata negara-negara non-Islam. Mereka, khususnya yang anti Islam, makin memiliki “senjata” untuk menyudutkan Islam. Mereka membentuk opini dunia bahwa ternyata Islam itu mengajarkan korupsi. Buktinya Indonesia menjadi negara terkorup dimana pejabat-pejabat yang melakukan korupsi sebagian besar beragama Islam. 

 

Susahnya memberantas korupsi di Indonesia selain karena sudah mendarah daging juga karena definisi korupsi yang tidak jelas. Menurut Purwadarminta, definisi korupsi dalam bahasa Indonesia adalah tindakan menyalahgunakan jabatan yang mengakibatkan kerugian negara. Dengan definisi ini, jika seorang pejabat menyalahgunakan jabatannya, tapi tidak merugikan negara maka tidak bisa dikatakan korupsi. Contohnya, seorang kepala gudang sembako menjual sembako yang ada di gudang lewat toko miliknya, lalu setelah laku ia kembalikan modal sembako tersebut ke gudang, sedangkan keuntungannya diambil oleh toko. Maka, tindakan seperti ini tidak bisa dikategorikan korupsi karena negara tidak dirugikan. Hal-hal seperti inilah yang menjadi korupsi terselubung, yang tidak bisa dituntut secara hukum.

 

Namun, bila kita menggunakan definisi korupsi yang dikeluarkan WHO, yang  dalam salah satu kalimatnya disebutkan bahwa yang masuk perbuatan korupsi bila mengandung unsur “mengambil yang bukan haknya” maka tindakan di atas sudah termasuk kategori korupsi.

 

Sementara definisi korupsi (ghulul) menurut Islam adalah penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain dengan cara sariqoh (pencurian), ikhtilas (penggelapan), al-Ibtizaz (pemerasan), dan suap (risywah) sebagai perbuatan mengkhianati amanah yang diberikan masyarakat kepadanya. Intinya, setiap perbuatan mengambil yang bukan haknya, baik secara terang-terangan atau tersamar termasuk dalam perbuatan korupsi. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa Haram terhadap korupsi. Larangan korupsi ditegaskan di dalam Al-Qur`an, Alloh berfirman,

  

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfaal: 27)

 

Lalu Rosululloh SAW menegaskan hukum berbuat korupsi, sabda Beliau SAW,

 

“Alloh melaknat orang yang menyuap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi )

 

Pada hadits lain Rosululloh SAW bersabda,

 

“Barangsiapa yang telah aku pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu kuberi gajinya maka sesuatu yang diambilnya diluar gajinya itu adalah penipuan (haram).” (HR. Abu Dawud)

 

Di ayat lain, Alloh memperingatkan siapa yang korupsi maka di akhirat ia akan datang membawa harta hasil korupsinya untuk menerima pembalasannya.

  

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)

 

 

Pada dasarnya korupsi tidak hanya mengambil yang bukan haknya dalam hal materi. Korupsi juga bisa dilakukan terhadap sesuatu yang tidak berwujud (nonmateri), seperti waktu. Seorang PNS bisa disebut korupsi waktu, tatkala ia tidak bekerja sesuai waktu yang telah ditetapkan. Atau ia sering menghilang dari kantor di saat jam kerja, untuk keperluan pribadi

 

Lalu bagaimana cara memberantas korupsi kelas kakap yang telah mendarah daging? Cara yang paling ampuh dan cepat adalah menggunakan hukum Islam, yaitu potong tangan. Tapi masalahnya, Indonesia bukan negara Islam sehingga tidak bisa menggunakan hukum Islam. Namun, bila kita menggunakan hukum yang ada sekarang maka cara yang paling tepat adalah ada kemauan kuat dari pemerintah untuk tobat, kemudian saling bekerjasama memberantasnya. Sebab, masalah korupsi di Indonesia disebabkan oleh perilaku kelompok, jadi untuk memberantasnya juga harus berkelompok.

 

Dalam dunia kedokteran, untuk memberantas sebuah penyakit dilakukan dengan lima prinsip. Tiga prinsip diantaranya bisa diterapkan untuk memberantas korupsi, yakni promotif, preventif, dan kuratif. Promotif artinya pemerintah harus lebih intensif melakukan edukasi kepada generasi muda agar tidak ikut-ikutan budaya korupsi. Preventif maksudnya melakukan pengawasan secara ketat terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya korupsi. Tindakan ini lebih cocok dilakukan oleh BPK maupun KPK. Sedangkan kuratif, yaitu memberikan hukuman yang setimpal sebagai langkah penyembuhan pelaku korupsi. Penerapan langkah ini disesuaikan apakah koruptor perorangan atau kelompok. Kalau dalam syariat Islam, tentu sudah jelas tindakan kuratif dengan cara potong tangan.

 

Inilah beberapa cara memberantas korupsi. Masalahnya bukan bisa atau tidak bisa memberantas korupsi, tapi mau atau tidak mau. (Yons Achmad)

 



Berita Humaniora Lainya

Nama

Email

Komentar :

Kode:
qrd5n3
 

23 Komentar
retno 27 Maret 2013 | 14:35

Korupsi itu karena NIAT. SIAPA DAPAT MENGHENTIKAN? Ya, dirinya sendiri atau amputasi, karena korupsi penyakit moral yang kronis. Hukumlah yang DAPAT mengamputasi. Sayangnya kalau sudah koruptor uangnya banyak, hakimnyapun disuap untuk dapat mengurangi hukuman. Jadi KUNCINYA ada di pengadilan. HAKIM, JAKSA bersih HASIL pengadilan juga bersih, KEPUTUSAN pengadilan dapat JADI MENYEHATKAN moral masyarakat.

taufiq qurohman 20 Februari 2013 | 04:55

wahh klo menurut saya mmg system di indonesia sdh salah kmdn baru orgnya ditata berdasarkan agama

juhasun 27 Januari 2013 | 12:49

saya berpendapat korupsi di negara indonesia bukan tidak bisa di berantas tapi tinggal caranya yang bagai mana, kalau kita memberantas korupsi dengan menghukum seberat beratnya maka yang menjadai kendala kita adalah landasan hukumnya dan penegak hukumnya,saya berkeyakinanan koropsi bisa di berantas tetapi membutukan waktu yang panjang yaitu dengan cara memberikan pelajaran hukum korupsi sejak dini mulai dari Tk SD sampai perguruan tinggi, diberi pembelajaran tentang hukum dan korupsi, sehingga masyarakt mendapat pengetahuan tentang hukum dan korupsi betapa hina dan merugikan tindakan korupsi tsb.maka oleh karna itu pendidikan hukum dan korupsi di berikan pemebelajaran mulai dari usia dini,karana sekarang. pendidikan hukum dan korupsi baru di terima setala di perguruan tinggi,menurut hemat saya itu penyebab utama.

redy septimas 27 Januari 2013 | 12:28

para karuptor harus d pecat dan d hukum sampai mati atau d asingkan d tempat yang tidak berpendu2k,memberi bekal2 bijia2an untuk dia bercocok tanam untuk mnghidupkan diri supaya dia tau bagimna rakyat kecil mmcari makan dan tmpat pngasian itu d lindungi oleh kawat beralran listrik

nita kholimah 24 Januari 2013 | 14:15

menurut saya, para koruptor harus dipecat dari jabatannya,

itta gomez 22 Januari 2013 | 08:07

lebih baik mengganti UU yang telah ada bukannya memfitnah tapi memang benar adanya bahwa yang membuat UU adalah para DPR tapi siapa yang paling banyak melanggar UU tentang korupsi itu sendiri?? lebih baik denda yang diberikan buka 1/4 dari apa yang di korupsi tp 2x lipat dar apa yang telah ia terima

tryazgengstermasalililiadontanny 07 Januari 2013 | 12:09

sejatinya korupsi akan hialang jika sistem di indonesia berubah dan mematuhi kaidah-kaidah agama yang rasulullah ajarkan pada kita.

jetro saogo 27 Desember 2012 | 11:35

komisi pemberantasan korupsi, SDMnya lebih di tingkatkan mulai dari pemerintahan tingkat pusat sampai daerah terpencil. Mentalitas yang jelek seperti ini sebagai "pejabat pemerintah" sebaiknya di rubah. tolong ya...!

tio 09 Desember 2012 | 02:15

secara konseptual cara berantas korupsi tentu sudah ada, cuman butuh kemauan dari semua pihak (masyarakat, pemerintah, legislatif, dan yudikatif) untuk menegakkannya. Masalahanya, sebenarnya para petinggi kita itu beneran mau mberantas korupsi apa nggak sich??

elis sopariah 05 Desember 2012 | 22:44

orang yang biasanya telah mencicipi korupsi akan terus berlanjut demi kelangsungan hidupnya, dan mati 1 tumbuh 1000

elis sopariah 05 Desember 2012 | 22:41

orang yang biasanya telah mencicipi korupsi akan terus berlanjut demi kelangsungan hidupnya, dan mati 1 tumbuh 1000

astuti 03 Desember 2012 | 16:05

saya kira cara yang terbaik untuk memberantas korupsi adalah dengan memberikan hukuman mati, otomatis pejabat/orang lain akan berpikir 2 kali untuk mmelakukan korupsi. lagipula kalau koruptor itu cuma di sel malah menghabiskan uang negara lagi karena harus membiayai uang makannya. coba bayangkan kalau koruptor ada 1000 orang dan jatah makan untuk sehari adalah 30.000, brapa banyak uang yang harus dikeluarkan negara. kalau di hukum mati kan gak ada beban biaya lagi

Lidya 02 Desember 2012 | 19:27

mana upaya pemberantasannya Pak (*=*) (#!#) (^?^)

cha 30 November 2012 | 13:11

berantas lah korupsi dari negri ini dengan bantuan masyarakt

lalu rijal 13 November 2012 | 13:58

pemberantasan korupsi harus dilakukan oleh semua masarakat dan para pejabat akan tetapi semua masyarakat ikut korupsi,

Wal 01 November 2012 | 21:54

Tolng jelskan upaya atw langkah2 dlm pemberntasn korupsi

rosa rosleni daeli 26 Oktober 2012 | 10:50

Pemberantasan korupsi di indonesia sudah susah untuk di hentikan, karena sudah mendarah daging. dimana pejabat-pejabat di indonesia telah menyalahgunakan jabatannya.

Tyaseta Rabita Nugraeni Sardjono 25 Oktober 2012 | 23:49

betul, setuju banget untuk Islam.....dan opininya untuk identifikasinya bisa dengan teknologi mungkin tapi bisa di hack atau manipulasi ngga yah?tau deh hehe dan untuk fisiknya kayak di Arab ada Qisosh di depan umum,kapan yah kita bisa kayak gitu?

armstrong indonesia 08 Oktober 2012 | 11:06

terima kasih atas informasi yang telah di berikan

Nasrullah Idris 03 Oktober 2012 | 19:38

Berantas korupsi dengan apresiasi hitung cepat. Wasalam, Nasrullah Idris http://www.facebook.com/nasrullahidris.0081929784

riyan dama 23 September 2012 | 13:50

para ulama/pemuka agama pun telah mengingatkan pemerintah tentang hal itu, apa yang akan terjadi bila ternyata pelaku pemerintahan pun tak merespon nya

riyan dama 23 September 2012 | 13:49

para ulama/pemuka agama pun telah mengingatkan pemerintah tentang hal itu, apa yang akan terjadi bila ternyata pelaku pemerintahan pun tak merespon nya

Ajiedgozilla 12 Agustus 2012 | 14:46

hukum islam harus diterapkan yaitu potong tangan atau dimiskinkan semua kekayaan/aset disita walaupun itu milik pribadi