Humaniora     Dibaca :9909 kali , 16 komentar

Hukum Musik Dalam Pandangan Islam

Ditulis : Elvira Suryani, 19 Mei 2012 | 14:36

“Berhibur Tiada salahnya Karena Hiburan Itu Indah

Hanya pa bila salah memilihnya, membuat kita jadi bersalah”

(Nasyid Raihan)

 

Bagi pecinta nasyid, Anda tentu hapal dengan syair  di atas yang dibawakan oleh group Nasyid Raihan. Musik memang banyak disukai oleh setiap orang. Dengan musik kita menjadi senang dan terhibur. Musik juga membawa kebahagiaan bagi yang mendengarkan. Namun, apa yang salah dengan musik tersebut. Kenapa sebagian ulama melarang dan sebahagian lagi memperbolehkan.Mari kita diskusikan tentang musik dalam pandangan Islam.


Pada dasarnya Islam itu mencintai keindahan. Dalam musik terdapat keindahan, kreatifitas dan seni hidup yang dapat menghibur sehingga menjadi budaya dalam masyarakat. Sebelum datangnya Islam. Kaum jahiliyahpun suka berpesta. Menggelar musik setiap hari.  Sampai datangnya Islam, musik tidak dihilangkan akan tetapi dibenahi. Mana yang boleh, mana yang tidak.


Kalau kita lihat kondisi saat ini, musik adalah salah satu cara untuk menyihir kaum muda-mudi yang masih labil. Jika ada pertunjukan musik, konser, dan band pasti ramai dengan penonton. Bahkan penuh sesak. Ada yang rela mengeluarkan uang ratusan ribu sampai jutaan. Demi hobi yang satu ini. Ada juga yang histeris ketika mendengar alunan musik sang idolanya. Berteriak-teriak dan seolah-olah seperti pemujaan. Mereka mencintai musik sudah seperti orang kesetanan sampai-sampai seluruh gaya para idolanyanya dijiplak habis, mulai dari cara berpakaian dan gaya hidup. Yang lebih parah lagi adalah para remaja yang mengikuti kebiasaan buruk idolanya yang suka minum-minuman keras dan memakai ekstasi. Jika seperti ini efek musik yang dimunculkan sudah jelas Islam sangat mewanti-wanti bahwa musik tersebut di larang.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik.” (HR. Bukhari dan Abu Daud)


Allah Ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia (ada) yang mempergunakan lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan.” (Qs. Luqman: 6)


Jika memahami hadist dan ayat al-qur’an yang membahas tentang musik sudah dapat dipastikan bahwa ada kekhawatiran dari orang-orang yang mendengarkan musik terlena dengan perintah Allah. Musik yang memberikan banyak mudharat inilah yang tentunya diharamkan oleh Islam. Bahkan musik yang sampai membuat manusia menjadi musyrik kepada Allah SWT.


Saat ini musik yang berkembang di negeri ini kebanyakan musik yang memberikan mudharat dari pada manfaat. Bahkan baru-baru ini ada beberapa artis musik yang menjadi sorotan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.  Musik yang dibawa bukan saja syairnya yang tidak mendidik, ditambah dengan goyangan erotis  para artisnya, seperti artis trio macam dan Lady Gaga. Kemudian ditambah lagi dengan gaya berpakaiannya yang seronok untuk menarik simpati para penonton. Apakah musik seperti ini yang mendidik masyarakat. Tentunya tidak. Dengan alasan inilah kenapa sebagian para ulama mengharamkan musik.


Terkadang sangat ironi sekali, ketika mereka yang mendukung para artis tersebut dengan dalih menjunjung tinggi nilai seni budaya. Nilai estetika. Namun,lupa nilai seni budaya dan estetika seperti apakah yang diharapkan dalam Islam? Lalu bagaimana Islam memandang musik Islami, seperti Nasyid, dan Rebana? Mari kita simak hadist berikut ini;


Berdasarkan hadits A’isyah: “Suatu ketika Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuk ke bilik ‘Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: “… dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.”), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: “Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini.” (HR. Bukhari)


Dari hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dapat dipahami bahwa musik seperti ini diperbolehkan. Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi membolehkan musik ini dikarenakan mengandung puji-pujian kepada Allah SWT.


Bahkan dalam Al-Qur’anpun belum ada ketentuan tentang diharamkannya tentang musik secara terang-terangan, dan juga tidak menghalalkannya, maka disinilah letaknya hukum mubah (diperbolehkan). Walaupun diperbolehkan, musik tersebut haruslah mengandung unsur manfaat untuk kehidupan manusia. Bukan musik yang melenakan manusia dari mengingat Allah SWT. Baik syair-syair yang dihasilkannya, maupun sarana yang dipergunakan. Unsur musik yang diperbolehkan disini adalah musik yang bebas dari kemaksiatan atau kemungkaran. Wallahu’Alam. (Elvira Suryani)

 

 



Berita Humaniora Lainya

Nama

Email

Komentar :

Kode:
qkere5
 

16 Komentar
Abi Chakef 25 Januari 2014 | 13:29

Diatas ada KEKELIRUAN memahami hadits. Yang dibolehkan nabi HANYA PADA MOMEN tertentu yaitu HARI RAYA. TIDAK BISA DI GENERALISIR.. Dan apakah TIDAK cukup keterangan2 yang JELAS tentang haramnya musik dalam HADITS ? HADITS itu firman Allah juga lho setelah Quran... SIlahkan cari lebih dalam. Sudah Hafal berapa Juz Quran ?, Sudah Hafal berapa hadits ?, Bisakah mendapat ketenangan dengan MENGINGAT ALLAH/ MEMBACA QURAN ? Sudahkah mengutamakan Quran & Hadits daripada syair ciptaan manusia...? Kita bukan bicarakan manfaat. Quran sudah menyatakan bahwa Khamr itu banyak manfaatnya tapi tetap HARAM....

hasbi khairullah 25 Februari 2013 | 10:22

sebelumnya saya mohon maaf kepada, anda penulis artikel, coba dikaji ulang hadits. hadits yang sampaikan ini, .......... Berdasarkan hadits A’isyah: “Suatu ketika Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuk ke bilik ‘Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: “… dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.”), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: “Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini.” (HR. Bukhari) sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya. disini terdapat kata KAUM... dan pertanyaan saya, apakah kita termasuk kaum yang mendengarkan musik..??? Coba dilihat Qs.Luqman 6,7 dan Tafsir Ibnu kastsir , dan pendapat syeh Utsaimin, syeh binbas. dan islam memiliki ketegasan dalam memberikan keputusan, Afwan jazakallah khairan

farizulhaq 19 Februari 2013 | 11:52

“Sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan ZINA, SUTRA, ARAK dan MUSIK. ...........” (HR Bukhari). pada hadis ini musik bersahabat dengan zina, sutra dan arak....ketiganya itu haram. pertannyaannya apakah kita boleh berzina walaupun sedikit atau mengada-ada boleh memakai sutra disaat sutra populer dimasa yg entah kpan atau minum arak walau setetes?????? Allah bersabda “Dan Kami berfirman:` Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan JANGANLAH KAMU DEKATI POHON INI, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (QS. al-Baqarah (2): 35) ayat ini jelas sekali pengingkaran manusia pertama kepada Tuhannya.....jangan dekati.......eh malah mendekat.....akibatnya gmn......kita semua terusir dari surga...... jangan mendekati zina.... jangan mendekati musik.... wahai kawan semua kita hidup didunia ini bukan main2.....kita dihadapkan antara surga atau NERAKA....menderitanya kita disaat meninggal bukan Al Quran yg kita dengar tapi malah MUSIK....bukan laailahailallah tapi......senandung

KOSPIADI 14 Februari 2013 | 11:16

musik tuh seperti kain mau di buat ap terserah yg punya .....untuk bahan baju mini n sexsi ..... korden ...jilbab.... sarung.... bisa-bisa saja.....!!!!!!!!!!!!!!!!!!1

Abu Faiz 11 Februari 2013 | 17:38

sebenarnya hukum Musik, Lagu, Nyayian: “Sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan ZINA, SUTRA, ARAK dan MUSIK. ...........” (HR Bukhari). Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang bersabda : “Lebih baik salah seorang dari kalian memenuhi perutnya dengan nanah daripada ia penuhi dengan sya’ir” [HR. Al-Bukhari no. 5802]. dari dalil diatas jelas bahwa yg di haramkan Musik (tdk ada keterngan bahwa diantara musik itu ada yang di halalkan) dari semua jenis. 2 Hukum yg Islam Miliki Yaitu Al Quran dan Al Hadits, kalau ada Hukum diantara keduanya sudah cukup bagi kita untuk merujuk....baarakallahu fiik

arief 02 Februari 2013 | 10:20

musik bisa besifat haram dan juga bisa mubah.. semua itu berdasarkan situasi dan kondisi saja. contoh musik dengan penari yang nyaris bugil tentu itu maksiat dan haram,, lalu bagaimana dengan musik yang santai slow, jika gaya penyanyi (rata2 band indo saat ini) seperti banci tentu haram juga. nahh,, haram ataupun boleh itu dapat dilihat dari cara dan waktu. karena itu tidak ada petunjuk pasti haram/tidak musik dalam al-quran.

yusuf muhammad 01 Februari 2013 | 04:00

Ini suatu cerita ttg diri saya pribadi yg mudah2an dapat diambil hikmahnya. Suatu ketika saya btanya pada ustadz A ttg musik, beliau menjawab "musik itu tidak sunnah!" (bahasa halus dari bid'ah/haram). Mendengar jawaban itu, saya merasa agama itu berat/sulit (meskipun saya jarang mendengarkan musik). Ustadz B yg tahu bahwa saya baru belajar agama segera menyahut "mendengarkan musik mungkin bisa menyenangkan hati, tapi tdk mendapat pahala. sedangkan mendengarkan alQuran dpt menenangkan hati sekaligus mendapatkan pahala." Mendengar jawaban ustadz B ini maka hati saya merasa ringan dan merasa bahwa beragama itu mudah. Padahal maksud kedua ustadz itu sama. Saya jdi ingat pesan Nabi SAW dalam bdakwah "Permudahlah, jangan kau persulit. Gembirakanlah, jangan kau buat lari.". Mudah2an bermanfaat.. .

hasan 25 Januari 2013 | 16:12

Berhati-hatilah dalam membuat artikel yang berhubungan dengan hukum islam. lihatlah para pendapat ulama sholeh terdahulu yang tidak diragukan lagi keilmuannya. Jangan ambil kesimpulan/menafsirkan Al Quran dan Hadist melalui penafsiran kita .karena Al-Qur'an itu hanya boleh di tafsirkan dengan Al-Quran kembali atau dengan hadist. ketika seseorang berani menafsirkan Al-Qur'an berdasarkan kehendaknya. maka pastinya ia sesat. Hukum Musik dan Lagu itu sudah jelas derajat keharamannya. Jenis musik/Lagu apapun itu. Wallahu’Alam

Arif Rahman 19 Desember 2012 | 20:55

Ada kah yang bisa menjelaskan pertanyaan di kepala saya ini Rasulullah bersabda barang siapa yang mengikuti suatu kaum maka dia bukan dari golonganku, jika saya hubungkan dengan musik bahwa kita tahu bahwa agama nasrani dalam beribadahnya menggunakan lagu lagu dan musik puji pujian untuk memuji tuhan mereka (lagu rohani) nah bagaimana dengan orang islam membuat lagu religi yang isinya memuji muji Allah dan Rasulullah, bukan kah sama hal nya dengan orang orang nasrani?? Saya mohon penjelasannya bagi yang faham, terima kasih, assalamualakum wrb.

Arif Setiawan 07 Desember 2012 | 14:14

dalam sejarah , dua wanita yang menabuh rebana adalah anak kecil, maka Rasulullah SAW membiarkan mereka, karena bukan maksud mereka untuk menjadi penyanyi, atau berlatih keras sebelum.a , dlm artian hanya sepontan saja.

Balya 03 Desember 2012 | 17:27

@zulfikar kawan,kita tidak boleh bersikap lebih pandai dari al-qur'an dan hadits...cobalah baca ulang artikel tadi dan coba lihat...gitar? apakah gitar termasuk musik islami? dan nabi hanya memperbolehkan musik islami pada hari raya,ada baiknya membaca al-qur'an daripada mendengar musik2 tersebut.

zulfikar 16 November 2012 | 17:40

terlalu mengahkim i. terlalu fundamentalis. coba search "purgatory" dan dengarkan lirik liriknya

Reliubun 07 November 2012 | 17:30

Hadits Bukhari yang mengisahkan cerita Aisyah itu benar dan shahih. bukan berarti menafsirkannya dengan bebas. mohon ditelaah kembali sebab ada batasan yang ditolerir Nabi SAW untuk kita jadikan teladan yang baik.

hifdzillah zein 15 Oktober 2012 | 21:46

musik tu netral tergantung bagaimana menyikapi nya karna qlo ada orang yang melupakan baca alquran sebab bermusik tu bukan musik nya yang salah tapi orang nya yang tidak bisa menempatkan kapan waktu bermusik dan kpn membaca al-quran krna qlo kita perhatikan lebih dalam lagi yang melalaikan baca al-quran bukan hanya dengan bermusik tp juga banyak hal-hal lain yang dapat melalaikan dalam bermusik seperti nonton tv,sibuk berdagang,dan lain sebagainya

abu qasim 23 September 2012 | 09:53

NYANYIAN DAN MUSIK DALAM PANDANGAN ISLAM oleh : Ibnu Qayim al Jauziyah Termasuk tipu daya dan perangkap musuh Allah, yang dengannya terperdaya orang yang sedikit ilmu dan agamanya, serta terjaring dengannya hati orang-orang bodoh dan batil adalah mendengarkan siulan, tepuk tangan dan nyanyian dengan alat-alat yang diharamkan, yang menghalangi hati dari Al-Qur’an dan menjadikannya menikmati kefasikan dan kemaksiatan. Ia adalah qur’annya syetan, dinding pembatas yang tebal dari Ar-Rahman. Ia adalah mantera homosexual dan zina. Dengannya, orang fasik yang dimabuk cinta mendapatkan puncak harapan dari orang yang dicintainya. Dengan nyanyian ini, syetan memperdaya jiwa-jiwa yang batil, ia menjadikan jiwa-jiwa itu -melalui tipu daya dan makarnya- menganggap baik terhadap nyanyian. Lalu, ia juga me-niupkan syubhat-syubhat (argumen-argumen) batil sehingga ia tetap menganggapnya baik dan menerima bisikannya, dan karenanya ia menjauhi Al-Qur’an. Seandainya engkau melihat saat bagaimana mereka mendengarkan nyanyian tersebut; mereka tampak senyap dan hening, tidak sedikit pun bergerak, segenap hati mereka terkonsentrasi padanya, perhatian mereka hanya menuju ke sana. Lalu, secara refleks, diri mereka tertawan, laksana orang yang mabuk, mereka pun menari dan berjoget. Tahukah kalian, bagaimana para wanita dan orang-orang banci mabuk kepayang? Itulah mereka! Dan hal itu pantas saja bagi mereka, sebab bius nyanyian telah menyatu dengan jiwa mereka, sehingga mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih berbahaya dari peminum arak. Di sana, ada hati yang dikoyak, ada pakaian yang dirobek, ada harta yang dikeluarkan bukan karena ketaatan kepada Allah, semua bukan karena Allah, tetapi karena syetan, sehingga mereka tak peduli jika harus mabuk. Dengan begitu, syetan telah mendapatkan angan-angan dan harapannya. Ia menghasung mereka dengan suara dan tipuannya, bahkan mengerahkan terhadap mereka pasukan berkuda dan berjalan kaki, dan meletakkan di dalam dada mereka duri-duri, kemudian membujuk mereka agar berkelana di atas bumi dengan berjalan kaki. Sehingga terkadang ia menjadikan mereka seperti keledai di sekeliling tempat rotasi, dan di saat lain seperti orang lemah yang menari di tengah-tengah rumah. Duhai, alangkah sayang atap dan bumi dirobohkan oleh telapak kaki-telapak kaki itu. Dan alangkah buruk penyerupaan dengan keledai dan binatang ternak. Duhai, betapa lega hati para musuh Islam terhadap bencana yang menimpa orang-orang yang mengaku sebagai orang-orang Islam pilihan,* mereka menghabiskan hidup mereka dengan se-gala kelezatan dan kenikmatan, dan menjadikan agama mereka sebagai pelecehan dan permainan. Seruling syetan lebih mereka cintai daripada mendengarkan surat-surat Al-Qur’an. Seandainya salah seorang mereka mendengarkan Al-Qur’an dari awal hingga akhir, tentu ia tak akan memotivasinya untuk diam tenang, juga tidak akan membuatnya khusyu’ dan tak akan mem-pengaruhi perasaannya, juga tak akan membuatnya rindu kepada Allah. Tetapi, jika dibacakan padanya qur’an syetan, begitu ia mendengar-nya, serta-merta hatinya memancarkan sumber-sumber perasaan yang merambat sampai kepada dua matanya, lalu pada kedua kakinya sehingga membuatnya menari, pada kedua tangannya membuat dirinya ber-tepuk tangan dan pada seluruh anggota tubuhnya membuat semua badannya berjoget dan bergoyang, pada napasnya membuatnya semakin terengah-engah dan pada api kerinduannya menjadikannya semakin berkobar menyala. Wahai orang yang membuat dan terkena fitnah, yang menjual bagi-annya dari Allah dengan bagian dari syetan sehingga merugi. Kenapa perasaan pilu itu tidak terjadi ketika mendengarkan Al-Qur’an? Kenapa perasaan itu tidak datang ketika membaca Al-Qur’anul Majid? Juga ber-bagai keadaan yang baik, saat membaca surat dan ayat-ayat? Tetapi memang, setiap orang mendapatkan apa yang sesuai dengan dirinya, juga cenderung kepada apa yang sebentuk dan sebangun dengan dirinya. Dan kesesuaian itu sendiri terjadi karena kecenderungan akal dan naluri. Lalu, dari mana persaudaraan dan nasab ini, jika bukan karena berhubungan dengan syetan, dengan sebab-sebab yang kuat? Lalu, dari mana pula perdamaian ini sehingga menjadikan simpul iman dan per-janjian dengan Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) terdapat cela? “Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagaipe-mimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (Al-Kahfi: 50). Dan alangkah baik apa yang dikatakan penyair, “Al-Qur’an dibacakan, maka mereka pun diam, bukan karena takut, tetapi diam karena lupa dan tidak memperhatikan. Dan ketika nyanyian didendangkan, serta-merta mereka pun bernyanyi laksana keledai, tetapi demi Allah mereka menari bukan karena Allah. Di sana ada rebana, seruling dan nyanyian yang memabukkan. Wahai, pernahkan Anda melihat ibadah di tempat bersenang-senang? Bagi mereka, Al-Qur’an itu amat berat, karena di dalamnya berisi berbagai perintah dan larangan. Mereka mendengarkannya seakan guruh dan petir, jika ia berisi peringatan dan ancaman melakukan perbuatan terlarang. Mereka menganggap Al-Qur’an itu penghalang terbesar nafsu dari berbagai keinginannya, wahai kapankah hal itu berakhir. Lalu mereka datang untuk mendengarkan yang sesuai dengan tujuan-tujuannya, dan karena itu mereka menjadi semakin sombong. Manakah penolong yang bisa menghentikan sebab-sebab hawa nafsu bagi orang yang bodoh dan lengah? Tidak, yang ada hanyalah arak bagi tubuh atau arak yang semisalnya bagi pikiran. Lihatlah orang yang mabuk saat minum, lihat orang yang mabuk di tempat bersenang senang! Lalu, lihat pula orang yang merobek-robek pakaiannya, setelah ia merobek-robek sendiri hatinya yang lupa. Lantas putuskanlah, manakah arak yang lebih pantas diharamkan dan dibebani dosa di sisi Allah?” Penyair lain berkata, “Kami setia kepada Allah dan berlepas dirt dari orang-orang yang mengidap penyakit mendengarkan nyanyian. Berapa sering kukatakan, ‘Wahai kaumku, kalian berada di tepi jurang, tepi jurang yang di bawahnya lembah curam, mengapa kalian tak mengambil peringatan?’ Kami sering menasihati mereka, agar kami punya alasan tentang keadaan mereka ketika ditanya Tuhan kami. Dan, tatkala mereka meremehkan peringatan kami, kami mengembali-kan perkara ini kepada Tuhan kami. Lantas kami tetap hidup berdasarkan Sunnah Nabi, sedang mereka mati dalam kebencian kami.” Para pembela Islam dan para imam yang memberi petunjuk senan-tiasa menyeru orang-orang tersebut dari segala penjuru dunia, juga memperingatkan yang lain dari perbuatan buruk mereka dan dari meng-ikuti jejak mereka, yang mereka itu terdiri dari berbagai macam agama yang berbeda. Imam Abu Bakar Ath-Thurthusi dalam sambutan kitab Tahrimus-Sama berkata, “Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, dan sungguh kesudahan yang baik itu hanyalah bagi orang-orang yang ber-takwa dan tiada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang zalim. Kita meminta kepada-Nya agar memperlihatkan kebenaran kepada kita sebagai kebenaran agar kita mengikutinya, dan memperlihatkan keba-tilan sebagai kebatilan agar kita menjauhinya. Pada zaman dahulu, jika orang melakukan maksiat berusaha untuk menyembunyikannya, lalu dia meminta ampun kepada Allah dan ber-taubat daripadanya. Selanjutnya, kebodohan di mana-mana, ilmu hanya sedikit dan terus berkurang sedikit demi sedikit, sehingga salah se-orang dari mereka melakukan maksiat secara terang-terangan, lalu raa-salahnya bertambah menjadi membelakangi perintah. Bahkan sampai kepada kami berita, sekelompok dari saudara-saudara kita umat Islam -semoga Allah memberi taufiq kepada mereka dan kepada kita- digelin-cirkan syetan, akal mereka dijerat dengan kecintaan kepada nyanyian dan kesia-siaan, mendengarkan musik dan bunyi-bunyian. Lebih-lebih lagi ia meyakininya sebagai agama yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Lalu, sekelompok umat Islam melakukannya secara te-rang-terangan dan menghalangi jalan orang-orangberiman serta menye-lisihi para ahli fiqh, ulama dan pembawa agama. “Dan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115). Karena saya memandang harus menjelaskan kebenaran dan meng-ungkap syubhat ahli kebatilan dengan hujjah yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Dan saya ingin memulainya dengan ucapan-ucapan ulama yang biasa memberikan fatwa di segenap penjuru dunia. Dan dengan demikian menjadi tahulah kelompok tersebut bahwa mereka telah menyelisihi ulama umat Islam dalam hal kebid’ahan me-reka. Dan hanya Allah yang memberi taufiq.” Selanjutnya Ath-Thurthusi berkata, “Adapun Imam Malik, maka beliau melarang nyanyian dan melarang mendengarkannya. Bahkan beliau berkata, ‘Jika seseorang membeli budak wanita, ternyata ia dapati budak itu seorang penyanyi maka ia boleh mengembalikannya karena alasan cacat.’ Dan Imam Malik Rahimahullah ditanya tentang nyanyian yang dibolehkan oleh penduduk Madinah? Beliau menjawab, ‘Hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang fasik’.”* Beliau juga berkata, “Adapun Abu Hanifah, beliau membenci nyanyian dan menjadikannya termasuk dosa-dosa.”**) Demikian pula dengan madzhab Ahlul Kufah: Sufyan, Hammad, Ibrahim, Asy-Sya’bi dan lainnya, mereka semua tidak berbeda pendapat dalam masalah tersebut, juga kita tidak mendapatkan perbedaan pendapat di kalangan Ahlul Bashrah dalam melarang nyanyian. Saya berkata, “Madzhab Abu Hanifah dalam hal nyanyian adalah madzhab yang paling keras, pendapat madzhab ini adalah pendapat yang paling berat. Para ulama madzhab Hanafi secara terang-terangan mengharamkan mendengar semua bentuk alat-alat musik seperti seru-ling dan rebana bahkan hingga sekedar menabuh batang pohon. Mereka menyatakan bahwa hal itu adalah maksiat, menjadikan seseorang fasik dan ditolak persaksiannya. Lebih dari itu mereka berkata, ‘Sesungguh-nya mendengarnya adalah suatu kefasikan dan menikmatinya adalah kekufuran.’ Demikian lafadz mereka, dan tentang hal itu mereka me-riwayatkan sebuah hadits, tetapi bukan hadits shahih.” Mereka juga berkata, ‘Setiap orang wajib berusaha agar tidak mendengarnya ketika sedang melewatinya atau ia berasal dari tetangganya’.” Dan tentang rumah yang terdengar suara alat-alat musik, Abu Yusuf berkata, “Masuklah kamu kepada mereka tanpa meminta izin, sebab mencegah dari yang mungkar adalah wajib. Jika tidak dibolehkan masuk tanpa izin, tentu orang-orang tidak bisa menjalankan kewajibannya.” Mereka berkata, “Jika imam mendengar suara musik dari rumah seseorang, maka ia harus mendatanginya. Jika ia masih membangkang, maka ia harus menahannya atau memukulnya dengan pecut, bahkan jika mau, ia boleh mengeluarkannya dari rumahnya.” Adapun Imam Syafi’i, maka beliau berkata dalam kitab Adabul Qadha** “Sesungguhnya nyanyian adalah suatu kesia-siaan yang diben-ci, ia menyerupai kebatilan dan kemustahilan, siapa yang memperba-nyak nyanyian, maka ia adalah orang bodoh dan tidak diterima kesaksi-annya.” Para sahabat Imam Syafi’i yang mengetahui madzhab beliau ada yang secara terang-terangan mengharamkannya, dan mereka menging-kari orang yang mengatakannya mubah. Mereka seperti Abu Thayyib Ath-Thabari, Syaikh Abu Ishak dan Ibnu Shubbagh. Syaikh Abu Ishak dalam At-Tanbih berkata, “Dan tidak sah menye-wa atas manfaat yang diharamkan, seperti: Nyanyian, menyuling atau mengangkut khamar, dan dalam hal ini tak seorang pun yang menyeli-sihinya.” Selanjutnya dalam Al-Muhadzdzab beliau berkata, ‘Tidak boleh menyewa atas sesuatu manfaat yang diharamkan, sebab hal itu hukum-nya haram, sehingga tidak boleh mengambil pengganti daripadanya, sebagaimana dalam hal bangkai dan darah.” Perkataan syaikh di atas mengandung beberapa hal: Pertama, manfaat nyanyian adalah jenis manfaat yang diharamkan. Kedua, menyewa atau mengontraknya adalah batil. Ketiga, makan dari hasil nyanyian berarti makan harta secara batil, yakni sama dengan makan dari harga bangkai atau darah. Keempat, seseorang tidak boleh mengeluarkan hartanya untuk pe-nyanyi, hal itu haram baginya karena berarti ia mengeluarkan harta untuk sesuatu yang diharamkan, sehingga mengeluarkannya untuk ke-pentingan tersebut sama dengan mengeluarkan harta untuk (membeli) darah dan bangkai. Kelima, seruling adalah haram. Jika seruling yang merupakan alat musik paling ringan hukumnya haram, bagaimana pula dengan sesuatu yang lebih berat daripadanya, seperti: Kecapi, gitar dan klarinet? Dan bagi orang yang pernah menci-cipi ilmu, tidak seyogyanya bersikap tawaqquf (memilih diam) tentang pengharaman hal tersebut, sebab minimal ia adalah syiar (simbol) bagi para ahli kefasikan dan peminum khamar.*’ Hal yang sama juga dikatakan oleh Abu Zakaria An-Nawawi dalam Raudhah-nya.* Masalah kedua yaitu menyanyi dengan menggunakan alat-alat musik yang merupakan syiar para peminum khamar untuk berjoget, seperti: Gitar, kecapi, simbal, senar dan semua jenis alat-alat musik lainnya adalah haram digunakan. Beliau berkata, ‘Tentang klarinet ada dua pendapat, Al-Baghawi mengatakan itu haram, sedang Al-Ghazali membolehkannya.**’ Lalu beliau mengatakan, “Yang benar adalah klarinet atau seruling itu adalah haram.” Abul Qasim Ad-Daula’i”^ telah menulis kitab khusus tentang pengharaman klarinet. Abu Amr bin Shalah menukil adanya ijma’ (konsensus) ten-tang pengharaman mendengarkan rebana, klarinet dan nyanyian yang didendangkan secara bersamaan. Dalam Fatawi-nya ia berkata, “Adapun tentang dibolehkan dan dihalalkannya mendengarkan hal tersebut, maka perlu diketahui bahwa rebana, seruling dan nyanyian, jika didendangkan secara bersamaan, maka mendengarkannya adalah haram. Demikian menurut para imam madzhab dan lainnya dari ulama kaum Muslimin. Tidak seorang pun ulama yang diperhitungkan ucapan-nya, baik dalam ijma’ maupun ikhtilaf (perselisihan pendapat) yang me-ngatakan dibolehkannya mendengarkan hal tersebut. Sedangkan perbedaan pendapat yang dinukil dari sebagian ulama madzhab Syafi’i adalah dalam masalah seruling jika dimainkan sendirian, juga rebana jika dimainkan sendirian. Orang yang tidak mengerti atau tidak merenungkannya, mungkin mempercayai adanya perbedaan pen-dapat di kalangan ulama madzhab Syafi’i dalam mendengarkan rebana, seruling dan nyanyian jika didendangkan bersamaan. Padahal jelas, itu adalah kekeliruan yang bertentangan dengan dalil syariat dan logika. Di samping itu, tidak semua perbedaan pendapat bisa dijadikan san-daran. Dan barangsiapa yang senantiasa mencari-cari perbedaan ulama, lalu mengambil yang paling mudah dan ringan dari pendapat mereka, maka dia telah atau hampir zindik (kafir).”””‘ Abu Amr selanjutnya berkata, “Perkataan mereka dalam masalah mendengarkan hal-hal yang disebutkan di atas sebagai bentuk ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah adalah perkataan yang bertentangan dengan ijma’ kaum Muslimin. Dan siapa yang menentang ijma’ mereka, maka baginya adalah sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115). Beliau membantah kedua kelompok di atas yang merupakan ben-cana bagi Islam, dalam suatu bantahan yang panjang. Kedua kelompok yang dimaksud adalah yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan yang mendekatkan did kepada Allah dengan sesuatu yang justru menjauhkan mereka daripada-Nya. Dan Imam Syafi’i serta para ulama madzhab Syafi’i terdahulu, terma-suk di antara orang yang paling keras dalam masalah ini. Diriwayatkan secara mutawatir dari Imam Syafi’i, beliau berkata, “Di Baghdad, aku meninggalkan sesuatu yang merupakan ciptaan orang-orang zindik. Mereka menamakannya taghbir (syair yang membuat orang zuhud di dunia), dengan syair tersebut, mereka menghalang-halangi manusia dari Al-Qur’an.”*) Jika demikian perkataannya dalam masalah taghbir, dan alasannya adalah ia menghalang-halangi manusia dari Al-Qur’an, padahal ia adalah syair yang membuat orang berlaku zuhud terhadap dunia, yang dinya-nyikan oleh seorang penyanyi, dan sebagian hadirin menabuh gendang dengan kayu untuk mengiringi lagunya. Aduhai, mendengarkan taghbir yang bagaikan buih dalam lautan,**’ mereka katakan mengandung ber-bagai macam kerusakan dan menyimpan segala yang diharamkan, lalu bagaimana dengan yang lain? Dan sungguh Allah mengetahui para pe-nuntut ilmu yang terkena fitnah dan juga ahli ibadah yang bodoh. Sufyan bin Uyainah berkata, “Dahulu diserukan, waspadalah terhadap orang berilmu yang suka melakukan maksiat, dan ahli ibadah yang bodoh, sebab fitnah keduanya merupakan fitnah bagi setiap orang yang terkena fitnah.” Dan sungguh siapa yang merenungkan kerusakan yang terjadi pada umat ini, niscaya ia akan mendapatkan semuanya bersumber pada kedua hal tersebut. Adapun madzhab Imam Ahmad,”* maka Abdullah putera Imam Ahmad berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang nyanyian, maka beliau menjawab, ‘Nyanyian itu menumbuhkan nifaq dalam hati, ia tidak membuatku tertarik’.” Kemudian ia menyebutkan ucapan Imam Malik, “Sesungguhnya nyanyian (hanya) dilakukan oleh orang-orang fasik.” Abdullah berkata, “Aku mendengarkan ayahku berkata, ‘Aku men-dengar Yahya Al-Qaththan berkata, ‘Jika ada orang yang mengamalkan setiap pendapat yang ringan (rukhshah), yakni mengambil pendapat penduduk Kufah dalam hal nabidz (anggur untuk minuman keras), pen-dapat penduduk Madinah dalam mendengarkan (nyanyian) dan pendapat penduduk Makkah dalam hal nikah mut’ah, maka dia adalah orang fasik’.””‘ Mendengarkan Nyanyian dari Wanita dan Anak-anak Kecil Yang Tampan Adapun mendengarkan nyanyian dari wanita asing (bukan mahram) atau anak kecil yang tampan maka ia termasuk hal-hal yang diharamkan yang paling besar dan ia lebih merusak terhadap agama.*” As-Syafi’i Rahimahullah berkata, “Jika ada pemilik budak wanita mengumpulkan orang banyak agar mendengarkan nyanyian daripadanya maka ia adalah orang bodoh yang tidak bisa diterima kesaksiannya.” Bahkan lebih dari itu beliau berkata, “Perbuatan itu termasuk dayatsah. Orang yang melakukan hal itu adalah dayyuts (yang merelakan kehor-matan keluarganya).” Al-Qadhi Abu Thayyib berkata, “Beliau mengatakan pelakunya seba-gai orang yang bodoh, karena ia mengajak manusia kepada kebatilan, dan siapa yang mengajak manusia pada kebatilan maka dia adalah orang bodoh dan fasik.” Beliau juga berkata, “Adapun kecapi, gitar dan semua alat-alat musik maka itu semua adalah haram, orang yang mendengarnya adalah fasik dan sungguh mengikuti jama’ah lebih baik daripada mengikuti dua orang yang tercemar kehormatannya.” Saya berkata, “Yang beliau maksud adalah Ibrahim bin Sa’d dan Ubai-dillah bin Al-Hasan, karena beliau berkata, ‘Dan tidaklah menyelisihi dalam hal nyanyian kecuali dua orang yaitu: Ibrahim bin Sa’d, sebab As-Saji meriwayatkan daripadanya bahwa ia berpendapat tentang nyanyian sebagai sesuatu yang tidak apa-apa. Dan yang kedua adalah Ubaidillah bin Al-Hasan Al-Anbari, seorang qadhi Bashrah, dan dia adalah orang yang tercemar kehormatannya’.” Abu Bakar Ath-Thurthusi berkata, “Ini adalah kelompok yang me-nyalahi jama’ah umat Islam, sebab mereka menjadikan nyanyian sebagai agama dan bentuk ketaatan, dan mereka berpendapat agar hal itu di-umumkan di masjid-masjid, tempat-tempat berkumpul, dan setiap maj-lis-majlis yang mulia, padahal tidak ada orang yang berpendapat seperti mereka. Dengan demikian, pengakuan kelompok itu atas hal tersebut adalah suatu kefasikan, dan orang yang mengakuinya menjadikan aib dalam keadilan dan kedudukannya dalam agama.” Dan alangkah indah apa yang diungkapkan oleh sebagian ulama, yang itu juga dibuktikan dalam perbuatan mereka, “Katakanlah kepada mereka sebagaimana yang dikatakan oleh hamba yang menasihati, dan hak nasihat adalah didengar. Sejak kapankah diketahui manusia dalam agama kita, bahwa nya-nyian adalah Sunnah yang hams diikuti? Dan agar seseorang makan seperti makannya keledai dan berdansa dalam suatu perkumpulan hingga terjadi perzinahan. Dan mereka berkata, ‘Kami mabuk cinta kepada Tuhan’, padahal tidaklah suatu kaum itu mabuk kecuali karena cawan-cawan (mi-numan keras). Demikianlah binatang, jika dikenyangkan maka kekenyangan membu-atnya menari-nari. Lalu seruling membuatnya mabuk, juga nyanyian, padahal jika (surat) Yasin dibacakan ia berpaling jengkel. Masjid-masjid kita dihinakan karena memperdengarkan (Al-Qur’an), lalu apakah dimuliakan kandang-kandang (minuman) seperti itu?” Dikutip dari terjemahan mukhtasar ighatsatul lahfan min masyahidisy syaithan karya ibnu qayyim al jauziyah

Ivan 01 September 2012 | 00:08

"Hai Manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran Tuhanmu (Allah) dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada)dalam dada dan petunjuk serta rahmatbagi orang2 yang beriman" (Yunus: 57) hiburan,, mengantarkan padakecintaan kepada Allah,, tapi lebih mendengarkan musik yang menurutnya cukup tuk mndekatkan diri padanya,, hingga kebanyakan orang lebih mendengarkan musik di banding Al-quran?? coba anda bandingkan mayoritas yang ada saat ini,, berapa persen orang yang lebih mendengar musik di banding al-quran dalam 1 hari,, dan berpa persen orang yang lebih mendengarkan Al-quran di banding musik,, Apakah bukan sesuatu yang menyimpang jika musik menggeser Al-quran yang jelas2 pedoman yang menyejukkan?? mohon di survey,, dan mohon penjelasan...