Segenap Crew Wasathon mengucapkan bela sungkawa atas musibah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah. Semoga segera mendapatkan jalan terbaik untuk mereka yang menjadi korban. ☀
Humaniora     Dibaca :519 kali , 0 komentar

Teologi Cinta Orang Puasa

Ditulis : Yons Achmad, 06 Agustus 2012

Bulan puasa menyapa kita. Dalam sebuah hadits  tersebutkan  “Barang siapa yang bersuka cita dengan kehadiran bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan tubuh yang bersangkutan tersentuh api neraka” (man fariha bi dukhuli Ramadlan harrama Allah jasadahu `ala al-niyran).  Beruntung sekali umat Islam yang menyambut datangnya bulan ramadhan, bulan puasa ini dengan suka cita. Sesuai janji Allah,  diharamkan tubuh kita tersentuh api neraka.


Puasa sendiri secara terminologis berasal dari bahasa Al-Quran shiyam yang artinya “menahan diri”. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A dalam karyanya “Lentera Hati” memberikan tafsir yang bagus sekali terkait puasa ini. Al-Quran ketika menetapkan kewajiban puasa tidak menegaskan bahwa kewajiban  tersebut datang dari Allah, tetapi redaksi yang digunakan dalam bentuk pasif: Diwajibkan atas kamu berpuasa….(QS 2: 183). Agaknya, redaksi tersebut sengaja dipilih untuk mengisyaratkan bahwa puasa tidak harus merupakan kewajiban yang dibebankan Allah SWT, tetapi manusia itu sendiri akan mewajibkannya atas dirinya pada saat ia menyadari betapa banyak manfaat di balik puasa itu.


Berangkat dari tafsir ini, pertanyaannya kemudian bagaimana dimensi teologisnya? Teologi dalam kajian pemikiran filsafat Islam mempunyai definisi yang khas. Dalam khazanah dunia Barat, istilah teologi bermakna diskursus mengenai Tuhan. Istilah ini diambil dari bahasa Yunani Kuno “Theos” (Dewa, Tuhan) dan “logos” (wacana, perbincangan). Lantas, dalam literature filsafat Islam, kemudian istilah “Theologi” lantas diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi “ashab al-kalam al-illahi (golongan yang ahli bicara tentang keTuhanan) dan “al-mutakallimun fi-ilahiyyat (mereka yang membahas soal-soal keTuhanan).


Terkait dimensi teologis (KeTuhanan) ini, makna yang terkandung ketika seseorang melakukan puasa ramadhan, sebenarnya adalah sebentuk usaha sadar manusia yang beriman, sekuat tenaga, sesuai dengan kemampuannya untuk mencontoh Tuhan (Allah) dalam sifat-sifatNya. Salah satunya, kita sama-sama tahu bahwa Allah SWT tidak “makan”, akan tetapi malahan “memberi makan”. Begitu pula, kita mesti menaburkan benih-benih sifat baik dan mulia yang mengantarkan kita kepada “Sifat dan sikap Allah SWT”. Dengan demikian, sifat dan sikap tersebut mengejawantah dalam kehidupan keseharian kita.  Allah Maha Berpengetahuan, Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Damai. Begitulah dimensi teologisnya.


Pada akhirnya, konsekuensi teologis ini berujung pada kecintaan kita kepada sesama. Jadi, prosesnya demikian. Pandangan ini tentu berseberangan atas tafsir orang-orang liberal bahwa dimensi orang puasa adalah dimensi kemanusian. Bukan, bukan demikian. Dimensi kemanusian hanyalah konsekuensi logis dari teologi cinta orang yang puasa. Berusaha untuk patuh atas kehendak Allah dalam firmannya (Al-Quran). Sebuah kecerdasan spiritual dalam menangkap, menafsirkan dan menjalankan wahyu dan ajaran yang diturunkan oleh Allah. Berusaha mencontoh “sifat dan sikap Allah SWT”. Hasilnya, kecintaan kita kepada Allah bertambah dan bentuk konkritnya adalah kecintaan kita kepada sesama. (Yons Achmad/Wasathon.com)



Berita Humaniora Lainya

Nama

Email

Komentar :

Kode:
32esj7
 

0 Komentar