Selamat Jokowi-Jusuf Kalla untuk Presiden RI Ke-7 ☀
Humaniora     Dibaca :428 kali , 1 komentar

Ini Cara Belajar Al-Quran yang Benar

Ditulis : Asa Mulchias, 25 April 2013 | 13:07

Jangan Katakan "Kul", Tapi, "Qul!"
Tragedi Tidak Belajar Tahsin al-Quran



Sudah berapa lama Anda mengaji al-Quran?



Rata-rata kita dididik dan diajar tentang baca al-Quran dari kecil. Tapi, siapa guru kita, materi yang diberikan, dan seberapa intensif kita mempraktikkan akan mempengaruhi kualitas bacaan itu sendiri.



Yang perlu dicatat: meski kita sudah lancar mengaji, belum tentu benar. Sebab lancar mengaji tidak menjamin kita telah benar dalam melafazhkan huruf-huruf Arab dengan tepat. Belum menjamin juga panjang pendeknya pas. Belum menjamin juga kita mampu membaca ayat-ayat gharib, yang cara membacanya tidak sama dengan membaca dengan hukum tajwid biasa.



Bicara hukum, membaca al-Quran dengan tartil itu wajib hukumnya. Perintah Allah dalam al-Quran yang mulia. Warottilil Quraana tartiilaa. Dan bacalah al-Quran itu dengan tartil.


Jadi, aneh: kalau seorang muslim itu sudah bertahun-tahun menjalani hidup, tapi baca Qurannya masih blentang-blentong. Yang lebih menyedihkan lagi, jika dia tidak belajar tahsin, berarti dia selama ini mengaji dengan cara yang salah. Dan itu bisa berarti mengubah arti dan makna al-Quran itu sendiri.



Astaghfirullah...



Kesalahan dalam mebaca al-Quran itu ada dua macam. Pertama, lahnun jaliyyun atau kesalahan yang fatal. Kesalahan yang terjadi ketika membaca Quran mengubah huruf atau harakat—otomatis mengubah makna.



Contoh Qul huwallahu ahad. Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Dibaca dengan huruf Kaf, bukan Qaf, menjadi kul huwallahu ahad. Artinya sontak berganti: Makanlah. Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.



Kedua, lahnun khofiyyun atau kesalahan yang samar. Dikatakan khofiyyun, karena hanya yang belajar yang tahu kesalahan tersebut. Contoh: waktunya dibaca mad, malah tidak. Harusnya 6 harakat, dibaca 4 harakat.



Secara bahasa, tahsin sendiri berarti memperbaiki. Secara istilah, berarti: membaca al-Quran dengan benar sebagaimana bacaan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya dengan cara memperharikan hukum-hukum bacaan, mengeluarkan huruf dari makhrajnya serta memperindah suara. Sehingga, tujuan belajar tahsin itu agar bacaan kita benar dan lancar. Menjaga lidah agar tidak salah ketika membaca al-Quran.



Cara membaca al-Quran dengan benar sendiri itu tauqifiyah: berdasarkan riwayat. Rasulullah tidak ber-ijtihad dalam bacaan Quran.



“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu” (Q.s. al-Qiyaamah [75]: 16-18).


Kewajiban membaca Quran itu wajib ‘ain: kewajiban individu, tidak boleh diwakilkan. Setiap muslim harus bisa. Sedangkan teorinya fardhu kifayah. Fardhu kifayah tidak boleh saling mengandalkan, bisa jadi tidak ada yang melakukan kewajiban tersebut.



Keutamaan orang yang belajar al-Quran itu ada banyak. Quran memberi syafaat pada hari Kiamat. Merupakan amal terbaik. Mendapat derajat yang tinggi. Tidak hanya di dunia, di alam kematian, tapi juga di surga. Mendapat sakinah dan rahmat. Mendapat sebaik-baik anugerah Allah.



Tahapan belajar tahsin itu sendiri ada empat.



Pertama, mengetahui pengucapan secara benar. Pengucapan huruf, kata, dan ayat.

Kedua, mengetahui hukum-hukum tajwid.

Ketiga, mengetahui ayat-ayat gharibah. Ayat-ayat yang asing bacaannya.

Keempat, tathbiq dan tadrib. Praktik dan latihan.


Ayo belajar tahsin! Luangkan waktu sejenak untuk bisa membaca dengan benar. Kalau tidak, akan habis waktu kita untuk urusan dunia semata. Lalu mati tanpa pernah bisa membaca Kitabullah sesuai ajaran Rasul kita.



Asa Mulchias
Author of "Jiwa-jiwa Gagah yang Pantang Menyerah"



Berita Humaniora Lainya

Nama

Email

Komentar :

Kode:
yjaxvw
 

1 Komentar
juniar sinaga (Nurjannah) 27 April 2013 | 22:06

motivatif,,, inilah yang sedang ana pelajari saat ini. agak sulit memang karena sebagai muslimah yg baru hijrah ke islam, harus memulainya dari -1 mulai dari IQRA, pengenalan huruf tapi insya Allah tetap ingin belajar sampai BISA! Biidznillah, Insya Allah suatu saat nanti bisa tartil

Pojok Inspirasi

Buku dan Tinta

“Sungguh, aku lebih memilih ditemani tinta sepanjang hari daripada seorang kawan. Aku lebih suka seikat kertas daripada sekarung tepung. Tamparan ulama di pipiku lebih terasa nikmat daripada minuman lezat.” (Muhammad bin Marwan Ad-Dimasyqi)

Menulislah

Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah (Al-Ghazali)

Dakwah Pena

Kalimat-kalimat kita menjadi boneka lilin, jika kita mati demi mempertahankannya, maka saat itulah ruh merambahnya hingga kalimat-kalimat kita hidup terus (Sayyid Qutb)

Ajarkanlah Sastra untuk Anakmu

"Ajarkan sastra kepada anak-anak kalian, karena sastra bisa menjadikan yang pengecut menjadi pemberani," Umar bin Khattab.